إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي المَالُ
“Setiap
umat memiliki ujian. Dan ujian terbesar bagi umatku adalah harta.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan
al-Albani).
Memahami
hadis ini, mungkin akan membuat kita teringat kondisi tragis yang dialami
sebagian kaum muslimin, terutama mereka yang menghadapi dilema antara dunia
ataukah aturan agama. Bagi orang yang mudah ‘merasa terpaksa’, dia akan
melegalkan segala cara, yang penting dapat dunia. Yang penting saya kenyang,
bisa tidur nyenyak, urusan dosa, nanti taubatnya. Ya mudah-mudahan, Tuhan
mengampuni. Inikan terpaksa. Seperti itulah kira-kira gambaran mereka yang
tidak sabar dengan kerasnya ujian harta. Terlalu mudah menganggap semua keadaan
dengan hukum ‘terpaksa’. Tak terkecuali mereka yang tega menjual harga dirinya,
demi karier dan profesi.
Jilbab Adalah Kehormatan Wanita
Allah
mewajibkan wanita berjilbab, tujuan terbesarnya adalah untuk menjunjung tinggi
kedudukan dan martabat wanita.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ
يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai
Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak di ganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS.
Al-Ahzab: 59)
Allah
Dzat yang paling tahu karakter manusia. Allah tahu bagaimana kecenderungan
lelaki fasik terhadap wanita. Mereka begitu bersemangat untuk mengganggu wanita
yang mereka nilai kurang terhormat. Namun semangat itu akan hilang, ketika
wanita yang ada di hadapan mereka mengenakan jilbab dan menjaga kehormatan. Dan
itu wujud dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Karena itulah, Allah akhiri
ayat ini dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia: “Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. (simak Tafsir As-Sa’di, hlm. 671). (baca juga: koleksi kaligrafi)
Wanita Dinafkahi, bukan Mencari Nafkah
Setiap
makhluk yang Allah ciptakan di alam raya ini memiliki kodrat tersendiri. Kodrat
yang ada pada diri makhluk menjadi jati dirinya dalam menelusuri kehidupan.
Itulah keadaan paling ideal yang ada pada diri setiap makhluk dalam meniti
jalan hidupnya. Sebut saja kodrat itu ibarat SOP (stadard operating procedure)
bagi setiap makhluk yang ingin meniti kehidupan yang nyaman di dunia.
Kodrat
atau istilah lainnya ‘fitrah’, berbeda-beda antara satu jenis manusia dengan
jenis manusia lainnya. Fitrah lelaki jelas berbeda dengan fitrah wanita. Karena
itu, masing-masing mengemban tugas yang berbeda. Hal ini telah Allah tegaskan
dalam Al-Quran, melalui firman-Nya,
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى
“Laki-laki
tidaklah sama dengan wanita ….” (Q.S.
Ali Imran:36)
Bagi
Anda yang ingin hidup normal, jangan coba-coba melawan fitrah Anda. Dijamin,
Anda akan mengalami kegelisahan dan perasaan tidak nyaman lainnya. Bagi Anda
yang ditakdirkan menjadi seorang wanita, jalanilah kehidupan yang feminin, dan
jangan sampai punya keinginan untuk mengubah diri, dengan berupaya menyerupai
lelaki. Karena tidak ada pilihan lain bagi anda, selain menjadi wanita.
Demikian juga sebaliknya, Anda yang ditakdirkan menjadi laki-laki, tunjukkan
gaya hidup maskulin, dan Anda tidak memiliki pilihan lain selain menjadi
laki-laki.
Salah
satu diantara bagian gaya hidup lelaki yang Allah tetapkan dalam Al-Quran
adalah memberi nafkah dan kecukupan bagi keluarga, dan bukan wanita. dan
karenanya, Allah tetapkan lelaki menjadi pemimpin dalam keluarganya.
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ
بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa: 34)
Allah
tegaskan dalam ayat di atas, seorang suami bisa menjadi pemimpin bagi
keluarganya karena dua hal: (1) karena kelebihan yang dia miliki, dan (2)
karena nafkah yang dia berikan kepada istrinya. Dan benarlah apa yang Allah
firmankan, banyak lelaki menjadi sangat tidak berwibawa di mata istrinya,
karena dia tidak bisa memberi nafkah keluarga atau karena sang istri lebih
mendominasi pemasukan bagi keluarga.
Dalam
kondisi itu, akan sulit bagi pasangat suami istri ini untuk menjalani kehidupan
rumah tangga yang normal. Karena, sekali lagi, melawan kodrat dan fitrah
manusia, akan mengancam kesejahteraan hidupnya.
Menjemput Rizki, tanpa Melanggar Larangan Syariat
Sesungguhnya
rizki 100% datang dari Allah. Inilah konsep yang selayaknya kita tanamkan dalam
diri kita, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam Al-Quran,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak
ada satupun makhluk yang hidup di muka bumi ini, kecuali rezekinya ditanggung
Allah…” (QS.
Hud: 6).
Di ayat
yang lain, Allah juga mengingatkan,
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ
نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Janganlah
kalian membunuh anak kalian karena kondisi miskin. Aku yang akan memberi rizki
kalian dan memberi rizki mereka (anak kalian)..” (QS. Al-An’am: 151).
Kita
camkan dalam lubuk hati kita, rezeki itu datang dari Allah, sementara kerja
yang kita lakukan, sejatinya hanyalah sebab untuk menjemput rezeki itu. Dan
tentu saja, yang namanya sebab untuk mendapatkan rezeki itu, tidak hanya satu,
namun beraneka ragam.
Kaitannya
dengan hal ini, perlu kita sadari, tidak mungkin Allah simpan sebagian rezeki
salah seorang hamba-Nya, sementara dia hanya bisa memperolehnya dengan cara
melanggar larangannya. Karena jika demikian, berarti Allah telah mendzalimi
hamba-Nya.
Dengan
demikian, rezeki Allah pasti bisa diperoleh dengan cara yang halal, tanpa harus
menerjang aturan syariat. Sejuta jalan halal yang bisa ditempuh untuk menjemput
rizki.
Allahu
a’lam
Oleh ustadz Ammi Nur Baits

No comments:
Post a Comment